MAKALAH TOPIK II: KEYAKINAN TERHADAP HUKUM KASUNYATAAN



KEYAKINAN TERHADAP
HUKUM KASUNYATAAN
(HUKUM KARMA, TUMIMBAL LAHIR, TILAKHANA,
DAN PATTICA SAMMUPADDA)


Makalah
Disusun untuk Memenuhi
Syarat pada Matakuliah Buddhisme







Oleh :
Dede Ardi Hikmatullah
NIM : 1111032100037




JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

2013


A.  PENDAHULUAN
Dalam agama Buddha dikenal istilah dharma. Dharma merupakan salah satu bagian dari Triratna atau Trisarana yang merupakan dasar ajaran agama tersebut. Karena seseorang akan diakui ‘ke-buddha-annya jika sudah mengucapkan dan mengakui Triratna. Banyak pengertian mengenai dharma ini, baik yang dikemukakan penganut agama Buddha sendiri maupun para ahli agama. Namun terlepas dari itu, semua pengertian yang mereka lontarkan tidak jauh dari pemahaman bahwa dharma itu merupakan hukum kebenaran, agama, hal, atau hal-hal apa saja yang berkaitan dengan agama Buddha. Selain itu, ada empat makna utama yang terkandung dalam dharma, yaitu: doktrin, hak, keadilan dan kebenaran, kondisi, dan barang yang tidak terlihat atau phenomena.[1]
Walaupun dharma tersebut memiliki bermacam-macam arti, namun menurut pengertian sederhananya dharma berarti ajaran agama. Dan salah satu yang termasuk ke dalam dharma yang telah di ajarkan sang Buddha Gautama pada para pengikutnya ialah hukum kasunyataan. Disinyalir, Hukum Kasunyataan ini diajarkan oleh sang Buddha pada manusia dalam khotbah pertama yaitu pada bulan Asadha tahun 588 S.M. di Isapatana, tepat dua bulan setelah sang Buddha Gautama mencapai tingkat Buddha.[2]
Hukum Kasunyataan ini juga ternyata memerlukan pengkajian yang mendalam untuk memahaminya. Tak heran pembahasan mengenai Hukum Kasunyataan ini melahirkan pandangan yang berbeda dari para ahli. Hal yang mendasar yakni pada akar kata ‘kasunyataan’ sendiri. Kata ini disinyalir berakar kata dari ‘sunya’, ‘sunyata’, dan ‘sunnata’, yang ketiganya berasal dari bahasa yang berbeda namun memiliki pengertian dan makna yang tidak terlalu jauh berbeda. Kata ‘sunya’ sendiri dapat dimengerti dari dua segi pandangan, yaitu: dari segi pandangan phenomena atau realitis empiris dan dari segi pandangan absolut.[3]
Ada empat macam Hukum Kasunyataan, yaitu: Cattur Arya Saccani (Empat Kebenaran Mulia), Karma dan Punabbhava atau Tumimbal-Lahir (Kelahiran Kembali), Tilakhana (Tiga Corak Umum) dan Pancakkhanda (Lima Kelompok Kehidupan, dan Pattica Sammupadda. Dan dalam makalah ini akan dibahas secara ringkas mengenai keempatnya.

B.  HUKUM KASUNYATAAN
Kata “kasunyataan” berasal dari kata  “sunyata” (bahasa Sansakerta) atau “sunnata” (bahasa Pali) yang berarti jalan pikiran atau konsepsi yang tidak dapat dibentangkan dengan kata-kata manusia, hanya dapat ditembus dengan intuisi/pandangan yang terang. Kedua kata ini, sunyata dan sunnata, berakar dari kata “sunya” dan “sunna” yang mempunyai arti pencirian segala sesuatu yang kosong dari definisi yang tepat.[4]
Sunyata dan sunnata ini juga digunakan untuk mencirikan Yang Mutlak, yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata manusia. Kenyataan Mutlak ini ialah yang berlaku dimana saja dan kapan saja, tidak tergantung pada waktu dan tempat. Sehingga hokum kasunyataan dapat dipahami sebagai hukum abadi yang berlaku dimana-mana, mengatasi ruang dan tempat serta keadaan. Ini berarti, bahwa hokum kasunyataan bersifat kekal dan abadi sepanjang masa yang berlaku di semua tempat, didalam semua keadaan atau kondisi disetiap waktu. Hokum kasunyataan tentu berbeda dengan hokum yang dibuat manusia, karena hokum yang dibuat manusia sifatnya tidak kekal dan tidak dapat mengatasi waktu, tempat, dan keadaan.
Hukum kasunyataa ini juga termasuk kedalam ‘dhamma’ yang diajarkan Budha Gotama kepada manusia dalam khotbah pertama, ialah dua bulan setelah Siddharta Gotama mencapai tingkat Budha tepat di bulan Asadha tahun 588 SM di Isipatana. Karena banyaknya tempat yang tidak terhitung jumlahnya, ajaran tersebut dibentngkn dan diterangkan berulang-ulang kali dengan lebih banyak perincian dan dengan berbagai-bagai cara, sehingga pada akhirnya dikenal empat hukum kasunyataa, yaitu: Catttari Ariya Saccani, Kamma dan Tumimbal-lahir atau disebut juga Punabbhava, Tilakkhana, dan terakhir Pattica Samuppada.[5]
 
a.    Cattur Arya Saccani (Empat Kebenaran Mulia)
1.    Kasunyataan tentang Dukkha atau Dukkha Ariyasacca
-  Kelahiran, usia lanjut, dan kematian adalah Dukkha
-  Timbulnya kesedihan, tatap tangis, kesakitan, kesengsaraan, putus asa adalah Dukkha
-  Keinginan yang tidak tercapai adalah Dukkha
-  Kehilangan sesuatu yang disukai atau dicintai dan berkumpul atau selalu dekat dengan yang dibenci adalah Dukkha
-  Masih banyak lagi hal lainnya yang dapat menimbulkan Dukkha
2.    Kesunyataan tetang asal mula Dukkha atau Dukkha Samudaya Ariyasacca
Dukkha disebabkan adanya nafsu keinginan, kehausan, kerinduan (tanha) yang berhubungan dengan kenikmatan indra dan pikiran untuk terus mempertahankannya, atau menolak sesuatu yang tidak disukai/dicintai dan hal itu mengakibatkan timbulnya proses Tumimbal-lahir (re-birth).
3.    Kasunyataan tentang lenyapnya Dukkha atau Dukkha Anirodha Ariyasacca
-  Dukkha hanya dapat lenyap dengan padamnya nafsu keinginan (tanhakkhaya) dan padamnya arus kekotoran batin (asavakkhaya), yang berarti terhentinya proses tumimbal-lahir dan tercapainya Nibbana.
-  Padamnya tanhakkhaya dan asavakkhaya serta terhentinya tumimbal lahir dan tercapainya nibbana bukanlah semata-mata teori belaka, namun hal itu mengandung suatu pengertian bahwa gerak kehidupan yang dilakukan setiap saat mempunyai batas-batas kemampuan berdasarkan daya tangkap perasaan, pikiran, dan perbuatan kita. Selama perasaan, pikiran, dan perbuatan kita tidak dibiarkan bekerja terus sampai melampaui batas-batas kemampuan, maka selama itu pula kita dapat terbebas dari segala penderitaan/dukkha.
4.    Kasunyataan tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha atau Dukkha Nirodha Gaminipatipada Ariyasacca
Jalan menuju lenyapnya dukkha dapat dilakukan dengan menjalankan Ariya Atthangika Magga atau Delapan Ruas Jalan Utama, istilah ini memang seolah-olah menimbulkan pengertian bahwa untuk melenyapkan dukkha harus menggunakan delapan jalan yang semuanya utama. Padahal yang dimaksud adalah hanya ada satu jalan utama yang terdiri dari ruas atau jalur. Delapan Jalan Utama ini juga dikenal dengan Jalan Tengah atau Majjhima Patipada yang merupakan Parama Bodhi Marga atau jalan untuk mendapatkan penerangan sempurna untuk menjadi Budha. Delapan Jalan Utama ini mengandung delapan hal berikut:
-  Harus memiliki pandangan yang benar (Samma Ditthi)
-  Harus memiliki pikiran yang benar (Samma Sankapa)
-  Harus memiliki ucapan yang benar (Samma Vaca)
-  Harus memiliki perbuatan yang benar (Samma Kammanta)
-  Harus memiliki matapencaharian yang benar (Samma Ajiva)
-  Harus memiliki daya upaya yang benar (Samma Vayana)
-  Harus memiliki perhatian yang benar (Samma Sati)
-  Harus memiliki konsentrasi yang benar (Samma Samadhi)
Ariya Athangika Magga ini merupakan pedoman hidup sekaligus tujuan hidup setiap uamt Buddha.

a.    Hukum Karma atau Kamma
Hukum karma adalah hukum sebab-akibat. Karma berarti perbuatan, arti umumnya meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau batin dengan pikiran, ucapan, dan tindakan. Sedangkan karma dalam arti luas adalah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik/bermoral atau tidak baik/tidak bermoral.[6]
Agama Buddha mengajarkan bahwa karma menyebabkan kelahiran kembali (tumimbal-lahir), namun yang dilahirkan kembali bukanlah jiwa, bukan ‘aku’ manusia sebab tiada ‘aku’ yang tetap. Yang dilahirkan kembali adalah watak atau sifat-sifat manusia atau boleh juga disebut ‘kepribadian’-nya, namun kepribadian yang tanpa pribadi, yang tanpa ‘aku’.[7]
Ada tiga macam penyebab dari perbuatan, yaitu: loba (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan). Dan karma itu ada tiga jenis, yaitu: karma yang ditentukan oleh waktu, karma yang ditentukan oleh kekuatan, dan karma yang ditentukan oleh fungsi.[8]
Sepuluh jenis karma baik, diantaranya: gemar beramal dan bermurah hati, hidup bersusila, sering melakukan meditasi, berendah diri dan hormat, berbakti, cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain, bersimpati kepada kebahagiaan orang lain, sering mendengarkan dharma, gemar menyebarkan dharma, dan meluruskan pandangan orang lain yang keliru. Sedangkan sepuluh jenis karma buruk, antara lain: pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berdusta, bergunjing, kata-kata atau ucapan kasar dan kotor, omong kosong, keserakahan, dendam, dan pandangan salah. Namun selain keduanya, agama Buddha juga mengajarkan adanya lima bentuk karma celaka, yaitu: membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh orang suci, arahat, dan bodisttva, melukai seorang buddha, dan menyebabkan perpecahan dalam sangha. Kelima perbuatan durhaka tersebut mempunyai akibat yang sangat berat berat yaitu penitisan di alam neraka.[9]

b.   Punnabbhava atau Tumimbal-Lahir (Rebirth)
Punnabbhava merupakan bahasa Pali dan Punarbhava merupakan bahasa Sansakerta, keduanya memiliki pengertian yang sama yaitu Tumimbal-lahir atau kelahiran kembali (rebirth). Agama Buddha tidak menganut ajaran tentang adanya perpindahan roh (transmigrasi atau reinkarnasi), tidak ada sesuatu yang meninggalkan tubuh setelah meninggal dunia dan memasuki tubuh lain.[10]
Kelahiran dari makhluk-makhluk atau keputusan dari makhluk-makhluk akan lahir, rencana akan munculnya ke dalam kehidupan dan kelompok-kelompok kehidupannya, serta timbulnya aktivitas indriyana, inilah yang disebut tumimbal-lahir.[11] Dalam agama Buddha, pengertian persoalan tumimbal lahir tidak semata-mata dihubungkan dengan persoalan roh atau setelah manusia mati. Pengertian tumimbal lahir mencakup makna yang lebih luas. Sifat maupun corak dari suatu kelahiran kembali ditentukan oleh kamma kita sendiri, tergantung dari kekuatan batin dan keinginan kita sendiri, karena tanha telah menjiwai diri kita dan menjadi sebab kita berada sebagai individu beserta gerak-hidup kita.
Ada empat macam tumimbal lahir daripada makhluk-makhluk[12]:
§  Ada makhluk yang lahir dari kandungan, seperti: manusia, kuda, sapi, dll., dan ini disebut sebagai Jalabuja-Yoni.
§  Ada makhluk yang lahir dari telur, seperti: burung, ayam, cecak, ular, dll., dan ini disebut sebagai Andaja-Yoni.
§  Adanya makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti: nyamuk, ikan, dall., dan ini disebut sebagai Sansedaja-Yoni.
§  Ada makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar seperti Dewa Brahma dan makhluk neraka serta yang lainnya.

Selain itu, ada juga empat macam tumimbal lahir secara penyambungan kelahiran (patisandhi) di tiga puluh satu alam kehidupan, yaitu[13]:
§  Bertumimbal lahir di alam kehidupan yang menyedihkan (alam apaya), yang terdiri dari alam neraka, alam binatang, alam setan, dan alam raksasa (apayapatisandhi).
§  Bertumimbal di alam nafsu yang menyenangkan (alam kamasugati), yang terdiri dari sebuah alam manusia dan enam alam dewa (kamasugatipatipasandhi).
§  Bertumimbal lahir di alam yang masih mempunyai bentuk, yang terdiri dari enam belas alam (rupavacarapatipasandhi).
§  Bertumimbal lahir di alam yang tidak berbentuk, yang terdiri dari empat alam (arupavacarapatipasandhi).

Ada enam alam tumimbal-lahir atau jalan kecil mengenai kelahiran kembali, yaitu: dewa, manusia, asura, preta, binatang, dan penghuni neraka. Dan sekte Thien Thai memiliki pandangan bahwa ada sepuluh alam atau tingkatan dalam tumimbal-lahir, yaitu: buddha, bodhisattva, pratyeka buddha, sravaka (keempat alam ini merupakan alam atau tingkatan makhluk suci), dewata, manusia, asura, preta, alam binatang, dan penghuni neraka.[14]
Tumimbal-lahir ini sangat erat kaitannya dengan Karma atau Kamma, di mana Kamma seseorang dari kehidupan di masa lampau dan kamma pada kehidupan yang sekarang adalah masak pada kehidupan-kehidupan yang mendatang.[15] Sewaktu meninggal dunia, kesadaran saat ajal (cuti-citta) didorong oleh bentuk-bentuk kammanya akan menimbulkan kesadaran penyambung (patipasandhi vinnana) untuk betumimbal lahir di salah satu dari tiga puluh satu alam kehidupan, yang merupakan permulaan lagi dari suatu kehidupan baru. Peranan bentuk-bentuk kamma adalah yang merupakan arah penjelmaan (gati) seseorang untuk terlahir kembali di salah satu dari ketiga puluh satu alam kehidupan.

c.    Tilakkhana atau Tiga Corak Umum
Tilakkhana atau yang juga disebut Tri-laksana ini yang menjadi dasar ajaran agama Buddha, terdiri dari:
a.    Annica atau Anitya
Kata ‘anitya’ berarti ‘tidak kekal’. Doktrin ini mengajarkan bahwa dialam ini dunia tiada sesuatu yang kekal. Semuanya adalah fana. Tidak ada sesuatu yang tetap ada, segala sesuatu menjadi. Hidup adalah suatu rentetan yang terdiri dari hal-hal yang terjadi untuk sesaat dan yang sesudah terjadi segera tiada lagi. Demikianlah hidup ini adalah suatu arus yang mengalir tanpa awal, tanpa sebab pertama, dan tanpa akhir. Tiada saat yang statis.[16]
Selain itu, alam semesta ini mengalami perubahan yang tidak putus-putusnya. Tidak ada satupun yang tetap sama untuk selama satu saat yang berturut-turut. Tidak ada suatu makhluk yang tetap, tetapi yang ada hanya segala sesuatu yang timbul dan tenggelam. Sejak saat permulaan terbentuknya sesuatu, kehancuran membayanginya dan dapat dipastikan bahwa suatu saat akan hancur kembali tidak berbekas. Semua sankhara (paduan unsur) memperlihatkan sifat-sifat demikian: mucul, berkembang, lenyap. Segala sesuatu di alam semesta ini mengalami perubahan, tetapi kita tidak menyadarinya, kenapa?
-       Perhatian kita tidak ditujukan kepada proses perubahan itu
-       Proses tersebut ada yang berjalan sangat cepat, seperti gerakan peluru dan bentuk-bentuk pikiran
-       Proses tersebut berlangsung sangat perlahan, seperti gerakan gunung dan pertumbuhan batu[17]

Proses perubahan tersebut dinamakan anicca atau ketidak kekalan. Ketidak kekalan yang diajarkan dalam agama Buddha ini bukanlah suatu yang direka-reka atau yang dibuat-buat, akan tetapi merupakan kenyataan, fakta, yang dirasakan dan dialami dengan jelas sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikianlah, makhluk dari masa lampau pernah hidup, akan tetapi bukan sedang hidup maupun akan hidup. Makhluk dari masa yang akan dating adalah akan hidup, bukan sedang hidup atau pernah hidup. Dan makhluk dari masa sekarang itu sedang hidup, bukan pernah hidup maupun akan hidup.[18]
Anitya adalah suatu bentuk karakteristik mengenai semua eksistensi keduniawian, adalah kenyataan-kenyataan empiris yang nampak pada tingkat jasmani di dalam tubuh manusia, dengan unsur pokok memiliki elements adalah di dalam pengaliran darah atau air dari dalam tubuh secara konstan, betul-betul jauh dari melebihi kenyataan ketidak-kekekalan jasmaniah yang nampak dalam perbedaan diantara masa kecil, masa kanak-kanak, masa remaja, masa, dewasa, dan masa tua.[19]
Ajaran tentang anitya atau anicca ini penting sekali artinya untuk menerangkan penyebab adanya penderitaan, seperti yang diungkapkan di dalam pratitya samutpada atau pokok permulaan yang bergantungan. Dengan ajaran tentang anitya ini dapat ditunjukkan bahwa ‘kesadaran-ku’ (wijuana) bukanlah bermakam pada suatu jiwa yang kekal, melainkan bahwa ‘kesadaran-ku’ itu sebenarnya adalah suatu gejala yang kebetulan, gejala yang timbul karena sebab dan akibat.[20]

b.    Dukkha
Kata “dukkha” terdiri dari kata ‘du’ yang artinya “sukar” dan ‘kha’ yang artinya menanggung atau memikul. Maka dukkha itu berarti memikul sukar atau menanggung sukar adalah tidak memuaskan. Seringkali kata dukkha diterjemahkan dengan derita, karena tidak adanya kekekalan maka untuk semua sankhara merupakan dukkha. Ajaran agama Buddha bukan tidak mengakui adanya kebahagiaan atau sukha, karena yang dinamakan kebahagiaan oleh orang pada umumnya adalah tidak kekal, akan berubah menjadi dukkha.[21]
 Dukkha juga merupakan salah satu dari Aryasatyani atau kebenaran yang mulia. Yang disebut dukkha ialah penderitaan, hidup adalah penderitaan, kelahiran adalah penderitaan, umur tua adalah penderitaan, mati adalah penderitaan, disatukan dengan yang tidak dikasihi adalah penderitaan, tidak mencapai yang diinginkan adalah penderitaan. Dengan singkat, kelima pelekatan pada dunia ini adalah penderitaan.[22]
 Dalam agama Buddha, manusia dianggap selalu berada dalam dukkha karena hidup menyurut ajaran agama Buddha selalu dalam keadaan dukkha. Dukkha ini dapat dibedakan menjadi tiga macam:[23]
-       Dukkha sebagai derita biasa (dukkha-dukkha), yaitu segala macam derita yang dialami dalam hidup ini seperti dilahirkan, usia tua, berpisah dengan orang atau benda yang dikasihi, dan sebagainya.
-       Dukkha sebagai akibat dari perubahan-perubahan (viparinamadukkha), yaitu dukkha yang terjkadi akibat adanya perubahan baik yang berupa fisik maupun mental. Pada hakikatnya, perubahan selalu terjadi dan akan dialami oleh manusia sehingga manusia akan selalu mengalami dukkha.
-       Dukkha sebagai keadaan yang saling bergantung (sankharadukkha), yaitu dukkha yang terkjadi akibat adanya hal-hal yang saling bergantungan. Karena manusia terdiri dari unsur-unsur yang saling bergantungan, maka manusia juga akan selalu mengalami dukkha.

Dukkha secara wajar menyertai ketidak kekalan dan tanpa aku/roh yang kekal (anatta). Tidak terdapat sesuatu zat atau inti yang kekal, yang dapat kita pegang sebagai jaminan untuk mendapatkan ketentraman dan kepuasan. Oleh karena tnha, kita mencoba untuk menguasai dunia ini dan hati kita melekat kepadanya, akan tetapi dunia ini lolos terus dan meninggalkannya sebelum kita menyadarinya, sehingga akhirnya kita merasa sedih dan berduka cita karenanya.

c.    Anatta atau Anatman, artinya tak ada inti yang kekal (tanpa aku)
Kata ‘anatman’ berarti ‘tidak berjiwa’. Ajaran ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran tentang anitya, yang mengajarkan bahwa tiada sesuatu yang tidak berubah. Jika tiada sesuatu yang berubah maka juga tiada jiwa yang kekal. Manusia sebenarnya tidak berjiwa. Manusia adalah kelompok yang terdiri dari unsur-unsur jasmani dan rohani, didalamnya tiada suatu pribadi yang tetap. Kelima indra manusia, budi serta perasaanya sebenarnya tidak didiami oleh suatu pribadi. Keadaan mental manusia sebenarnya adalah gejala-gejala, yang dibelakangnya tiada tersembunyi suatu pribadi atau ego.[24]
Sebagai definisi, anatta adalah semua yagn bersyarat dan yang tidak bersyarat dapat dipandang tanpa diri yang kekal, karena: asing (bukan kepunyaan kita), hampa, kosong, tanpa inti, tanpa pemilik, tanpa majikan, tanpa siapapun yang dapat menguasainya. Sedangkan jasmani dan rohani jika diuraikan ternyata: asing (bukan kepunyaan kita), dan bagai sebuah bawang atau kol, jiak dikupas tidak terdapat inti apa-apa.[25] Rohani (nama) adalah tidak kekal, karena muncul, berubah, lenyap diluar kemauan kita. Demikian pula jasmani (rupa) itupun tidak kekal karena muncul, berubah, lenyap diluar kemauan kita. Segala sesuatu di alam semesta ini tiada satupun yang dapat disebut “kepunyaanku, aku, diriku”, maka itu segala sesuatu dialam semesta ini harus dipandang: semua yang bersyarat dan yang tidak bersyarat adalah tanpa diri yang kekal dan terpisah.[26]
 Rasa aku sebenarnya disisipkan oleh diri sendiri. Sebagai contoh: orang sakit gigi. Di sini ada gejala (1) gigi sebagai benda yang tak lain adalah rupa, (2) rasa sakit, yang tak lain adalah perasaan atau wedana, (3) pengamatan sakit oleh gigi karena sentuhan dan sebagainya yang tak lain adalah samja, (4) reaksi terhadap pengamatan sakit itu yang menimbulkan gambaran yang bermacam-macam, dan yang tak lain adalah samsakara, (5) kesadaran yang menaydari akan hal itu semua, yang tak lain adalah wijnana. Jelaslah, bahwa di sini sama sekali tiada pribadi atau ‘aku’. Jika kita mengatakan “aku sakit”, pengertian ‘aku’ sebenarnya disisipkan oleh orang sendiri.[27]
 Anatman juga dapat diterangkan dalam tiga tingkatan, yaitu: tidak terlalu mementingkan diri sendiri, kita tidak dapat memerintah terhadap siapa dan apa saja termasuk tubuh jasmani dan pikiran kita supaya tetap seperti apa yang kita inginkan, dan bila tingkat pengetahuan tinggi telah tercapai dan telah mempraktekkan akan mengetahui dan menemukan bahwa jasmani dan batinnya sendiri adalah tanpa ‘aku’, atau tanpa pribadi.[28]

d. Pattica Sammupadda
Pattica Sammupadda memberikan arti bahwa timbul atas dasar dari sesuatu sebab sebelumnya, terjadi dengan cara dari sebab,  kejadian sebab musabab, ketergantungan asal mula.[29] Kehidupan itu timbul, berlangsung dan bersambung terus menerus tanpa berhenti. Dengan memahami seluruh fenomena kehidupan ini, agama Buddha memandangnya sebagai suatu lingkaran dari kehidupan, yang tidak dapat diketahui permulaan dan akhirnya.
Alam semesta ini dikuasai oleh hukum sebab akibat yang saling bergantungan atau hokum paticca samupadda. Segala sesuatu terbentuk, bergantungan kepada peristiwa yang mendahuluinya, dan segala sesuatu itu pasti akan menimbulkan lagi peristiwa berikutnya, yang bergantungan kepadanya dan demikianlah seterusnya. Sebagaimana terdapat didalam penjelasan paticca samupadda, bahwa keinginan menimbulkan ikatan, ikatan menimbulkan arus penjelmaan, arus penjelmaan akan menimbulkan kelahiran, inilah yang dimaksud kelahiran-kembali atau tumimbal lahir.[30]
Pattica Sammupadda dapat dirumuskan sebagai berikut:
Menjadi tua dan mati (jaramaranam) bergantung pada kelahiran (jati), kelahiran berganting pada hidup atau eksistensi yang lampau (bhawa), hidup atau eksistensi yang lampau bergantung pada kehausan (tanha), kehausan bergantung pada emosi atau rencana (wedana), emosi bergantung pada sentuhan atau kontak (sparsa), sentuhan bergantung pada indra dengan sasarannya (sadayatana), indra dengan sasarannya bergantung pada roh dan benda atau keadaan batin dan lahir (namarupa), roh dan benda bergantung pada kesadaran (wijuana), kesadaran bergantung pada penafsiran atau penggambaran yang salah (sanskara), penafsiran yang salah bergantung pada ketidaktahuan (awidya).[31] Kedua belas hal ini disebut 12 pokok permulaan Pattica Sammupada.

C.  PENUTUP
Demikianlah pemaparan singkat mengenai tiga hal pokok yang terkandung dalam Hukum Kasunyataan, yaitu: Karma dan Punabbhava atau Tumimbal-Lahir (Kelahiran Kembali), Tilakhana (Tiga Corak Umum) dan Pancakkhanda (Lima Kelompok Kehidupan, dan Pattica Sammupadda. Kita dapat melihat bahwa terdapat saling keterkaitan diantara ketiga hal tersebut. Dan ini juga yang sebenarnya membuat pengkajian dan pemahaman mengenai Hukum Kasunyataan ini sedikit lebih rumit.

D.  DAFTAR PUSTAKA

Hadikusuma, Hilman. 1983. Antropologi Agama. Bandung: PT Citra Aditya Bakti
Hadiwijono, Harun. 2010. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Romdhon, dkk. 1988. Agama-Agama di Dunia. Jakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.
T., Suwarto. 1995. Buddha Dharma Mahayana. Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.
_____. 1980. Kebahagiaan Dalam Dhamma. Jakarta: Majelis Buddhayana Indonesia.





[1] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, (Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana, 1995), h. 50
[2] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Jakarta: Majelis Buddhayana Indonesia, 1980), h. 62
[3] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 570
[4] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h.
[5] Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1983), h. 210
[6] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 70
[7] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), h. 76
[8] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 72
[9] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 72
[10] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma. h. 70
[11] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 69
[12] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 72
[13] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 72
[14] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 69
[15] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 73
[16] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 73
[17] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 74
[18] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 75
[19] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 59
[20] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 74
[21] ___, Kebahagiaan dalam Dhamma, h. 76
[22] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 71
[23] Romdhon,, dkk., Agama-Agama di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), h. 125
[24] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 74
[25] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 79
[26] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 77
[27] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 75
[28] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 61
[29] Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana, h. 63
[30] ___, Kebahagiaan Dalam Dhamma, h. 71
[31] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 72

0 komentar:

Posting Komentar